Apa kabar Indonesia ?

Apa kabar Indonesia ? Masalah Baru Apalagi Hari Ini?
By. Ali imron

Kasihan, kasihan, kasihan, dan kasihan. Mungkin hanya kata itulah yant cocok dikatakan untuk menggambarkan kabar negeriku saat ini. Tak ada tempat baginya untuk kata-kata seperti hebat, kuat, maju, atau kah kaya. Kata-kata itu telah dilahap habis negeri orang di belahan sana, hanya meninggalkan kata kasihan untuk negeriku, Indonesia.
Terbentuk dari ribuan pulau dari Sabang di kaki barat sampai ke Marauke di timur jauh sana.
Gugusan pulau yang seakan sengaja diciptakan sebagai batu permata yang digantung di bawah garis ekuator bumi tengah. Begitu indah. Mari ! Ku ajak engkau mendekat ke sana, berlari dari satu kota ke kota lainnya dan sesekali harus melompat dari pulau ke pulau. Lihat dan perhatikan apa sebenarnya isi dari permata itu.
Suara-suara gaduh menyeruak sepertinya mereka mengatakan tolong. Semakin lama suara-suara itu makin jelas memang benar berbunyi tolong. Kemudian tampak dari jauh ratusan orang berlarian compang-camping, sesekali menengok ke belakang seakan-akan mereka berada di tengah arena balap banteng Spanyol sana. Aku penasaran apa yang ada di belakang mereka, aku kaget luar biasa. Ternyata lebih dahsyat malah dari belasan banteng bertanduk runcing tajam. Air bah setinggi pohon kelapa membuka mulutnya lebar-lebar, kenyang melahap semua yang ada di depannya berkecepatan kayak mobil formula.
Aku berusaha mengulurkan tangan kananku kepada seorang gadis cilik yang menangis kebingungan. Hampir aku mencapainya. Tubuhku tiba-tiba tersedot masuk ke dalam lubang sempit. Latar berubah aku tiba di Kota Padang, bumi si anak durhaka Malin Kundang.
Aku mengangkat kaki sebelah memulai langkah awal di kota ini. Srek… kakiku menyentuh tanah kembali. Tiba-tiba sesuatu berbeda terasa dari kuku kaki sampai di ujung rambut keringku. Semuanya berguncang maju-mundur, kiri-kanan, atas-bawah tak beraturan. Aku berlari sempoyongan tak berarah. Ku pandang semua di sekelilingku, aku memutar badan satu lingkaran penuh. Di sana aku melihat tembok-tembok kokoh yang selama ini menjadi tameng dari terik matahari, hujan, dan dari dinginnya malam, roboh bagai mainan bongkar pasang rata dengan tanah. Beberapa mobil ambulans berseliweran ke sana ke mari dengan sirinenya yang memekikkan telinga menambah tegang suasana. Orang-orang bermuka bingung dan panik, semuanya begitu. Mereka memenuhi jalan-jalan ibukota mengarah ke suatu tempat yang beberapa saat setelahnya aku ketahui tempat itu adalah kamp pengungsian.
Dari Sumatera Barat kita lari-lari kecil ke Riau. Aku sempat tersesat sebelum akhirnya sampai di sana. Ada kabut tebal pekat menghalangi jalan, baunyapun menciderai hidung. Kebakaran hutan lagi kataku dalam hati.
Dari sana kita ambil ancang-ancang dan melompat lebar ke Pulau Kalimantan. Aku tersungkur jatuh dengan wajah menempel ke tanah. Kakiku tersandung dahan pohon. Aku mengangkat wajah mencoba menengok, aku berada di tengah hutan.
Beberapa saat kemudian terdengar bunyi rongrongan mesin gergaji. Pijakanku terasa bergoncang ketika sebatang pohon besar jatuh ke tanah. Tak hanya sekali tapi puluhan kali. Aku mendekat ke sumber suara, terdengar lagi bumi kracak-karacak dahan pohon. Sebatang pohon besar sepuluh kali lipat dari badanku mengarah jatuh tepat ke tempatku berdiri. Untunglah lubang hitam sempit itu muncul tepat waktu, aku tiba di Poso Sulawesi Tengah, malam hari kira-kira setelah isya.
Berbeda dari tempat-tempat sebelumnya. Hanya kata sepi dan tegang yang muncul di otakku. Tak ada seorangpun yang terlihat bahkan bunyi jangkrik malam tak ada. Aku seperti ditarik sesuatu ke sebuah rumah yang lampunya menyala di atas teras. Aku menaiki tangga kayu basah rumah panggung itu. Sebelum mengetuk pintu, sempat aku menyelidik melalui celah-celah jendela depannya. Aku melihat bayang-bayang dua orang tegak berdiri, di tangannya ada parang. Aku pindah ke celah di sampingnya. Ku lihat seseorang yang bergerak tertatih-tatih, di bawah kakinya bercak-bercak cairan kental merah bertebaran kayak bintang di langit malam ini. Dia ditusuk.
Keringat dinginku bercucuran dari balik pelipis, aku tak pernah melihat yang seperti ini. aku mundur perlahan-lahan menuruni tangga. Tapi di dua anak tangga terakhir aku terpeleset jatuh terbaring ke tanah menghadap angkasa. “Siapa itu ?” terdengar suara berat dan serak dari dalam rumah tadi, diikuti dera-dera langkah kaki sampai terdengar bunyi engsel pintu di putar. Cepat-cepat aku bangun memutar badan berlari secepat mungkin lompat masuk ke dalam hutan lari sekencang-kencangnya. Di belakang aku mendengar langkah panjang menghampiri. Semakin kencang aku, semakin jelas suara langkahnya. Aku tiba dipinggir sungai dan aku lompat ke dalamnya.
“Aku tak bisa berenang, aku tak bisa berenang !” , begitu ku teriakkan di dalam air. Ajaibnya kaki dan tanganku tiba-tiba bergerak sendiri, melakukan gerakan teratur dan kompak kayak atlet renang olympiade yang mendekati garis finish, dia akan juara. Aku membiarkannya saja, membiarkanku dibawanya ke permukaan. Kepalaku muncul duluan merasakan indahnya menghirup udara. Sayup-sayup basah ku buka mata, sinar kesilauan muncul dari benda bundar di atas sana. Berganti siang. Setelah merasa cukup sadar, aku menjajakkan pandangan bertanya-tanya tempat yang bagaimana lagi ini. Desingan tombak besi runcing saling berpapasan memecah udara tepat di atasku. Belasan lagi mengikuti di belakangnya di tembakkan dari sisi kiri dan kanan sungai.
Selanjutnya anak-anak panah dua kaki melesat berkelok-kelok membentuk parabola mendarat di perut seseorang sebagai landasan pacunya. Tak mau ketinggalan batu-batu sungai bundar sebesar kepalan tangan beterbangan bagai debu membuat orang-orang pada melindungi kepalanya. Aku tahu aku sekarang berada di Papua, lagi-lagi perang suku di batasi oleh sungai. Pastinya sudah banyak korban. Selalu saja terjadi.
Latar berubah sekali lagi, kali ini aku berdiri di trotoar jalan pinggir pantai. Angin sepoi-sepoi mengeringkan rambutku yang basah tadi. Ada banyak turis di sini. mereka menghabiskan malam ini dengan makan-makan, berdansa, berkejar-kejaran, dan lain-lain di atas pasir putih pantai itu. beberapa di antara mereka tertawa besar dengan mulut ternganga lebar, namun suara mereka menjadi tak jelas di makan oleh alunan musik rock beraksen Inggris yang keluar dari speaker system di panggung sana.
Tiba-tiba BOOOM… suaranya lebih keras beribu-ribu kali dari tulisannya saat dibaca. Bayangin sendiri-sendiri aja deh. Aku spontan memejamkan mata, kepalaku sakit, otot jantung bergerak tak beraturan, bunyi tiiit mendengung panjang di telingaku. Apa gendangnya tidak apa-apa ? bunyi luar biasa dahsyat. Perlahan ku buka kedua mataku yang tadinya ku pejamkan. Meja dan kursi beterbangan berubah posisi puluhan meter dari tempatnya semula. Potongan-potongan benda berlapis kulit manusia menyerupai tangan, kepala, kaki, dan lainnya memenuhi tempat tadi. Memang benar potongan tubuh manusia.
Pasir yang tadinya putih berkilau berubah jadi merah oleh darah. Turis-turis itu panik ketakutan berlarian keluar gerbang yang di atasnya bertuliskan “Pantai Jimbaran”. Bom mengguncang Bali, Pulau Dewata. Dunia gempar mendengarnya.
Lubang hitam sempit itu muncul lagi. Tapi bukan aku yang tersedot ke dalamnya, tapi yang tersedot adalah semua yang ada di sekeliling. Tempat baru lagi, aku tahu ini tempat terakhir untuk jalan-jalanku hari ini. aku berada di halaman sebuah gedung besar megah, atapnya berwarna hijau berbentuk menyurupai buku. Ku lihat diriku, mengenakan jas hitam, kemeja abu-abu, dan dasi putih bergaris-garis, lengkap dengan sepatu kulit impor asal Perancis.
Aku menjajakkan kakiku langkah demi langkah di atas lantai bersih mengkilap. Aku tiba di depan sebuah pintu besar di atasnya bertuliskan “Nusantara 1”. Aku mengekor di belakang orang-orang yang berjalan masuk pintu itu. seorang pria yang berdiri di sana mengatakan selamat pagi kepadaku dengan senyumnya yang lebar.
Aku menemukan kursiku, kursi bernomor 2109. Di mejanya terdapat papan kecil dari kayu jati berukir namaku. Aku duduk perlahan berusaha agar jasku tak terlipat sedikitpun. Beberapa saat setelahnya entah kapan dimulai, di depan orang-orang pada adu jotos. Pipi lawan tangan, kaki lawan siku. Aku mengira pertandingan tinju kelas berat. Berita heboh-berita heboh, anggota dewan adu jotos di meja ketua DPR. Suasana di luar gedung tak mau kalah dengan yang ada di dalam. Mahasiswa dan polisi anti huru hara saling terkam beterbangan kayak film kungfu. Aku pusing memilih diantaranya, yang mana lebih enak di tonton, anggota dewan versus anggota dewan atau mahasiswa versus polisi anti huru hara.
Telepon genggamku berdering, aku raih dari saku jasku mematikannya tapi tak bisa, ku coba lagi tetap tak bisa. Aku membuka mata, aku kembali ke dunia nyata. Ternyata yang berdering adalah jam wekerku di atas meja belajar. Aku mencapainya dan memencet bagian atas. berhenti berdering.
Aku keluar kamar mengarah ke WC untuk cuci muka. Belum sampai, terdengar bunyi paaak… dari teras rumah. Aku buka pintu depan, menemukan sebuah koran di sana. Aku memungutnya, masuk ke dalam rumah duduk di sofa yang menghadap ke televisi. Halaman depannya dengan huruf tebal bertuliskan APA KABAR INDONESIA ?. Aku membaca bagian bawahnya yang terdiri dari empat kolom panjang, mencoba mencari jawaban dari pertanyaan yang muncul di otakku, “Masalah Baru Apalagi Hari Ini ?”

One thought on “Apa kabar Indonesia ?

  1. pa kabar Indonesia ? Masalah Baru Apalagi Hari Ini?
    By. Ali imron

    Kasihan, kasihan, kasihan, dan kasihan. Mungkin hanya kata itulah yant cocok dikatakan untuk menggambarkan kabar negeriku saat ini. Tak ada tempat baginya untuk kata-kata seperti hebat, kuat, maju, atau kah kaya. Kata-kata itu telah dilahap habis negeri orang di belahan sana, hanya meninggalkan kata kasihan untuk negeriku, Indonesia.
    Terbentuk dari ribuan pulau dari Sabang di kaki barat sampai ke Marauke di timur jauh sana.
    Gugusan pulau yang seakan sengaja diciptakan sebagai batu permata yang digantung di bawah garis ekuator bumi tengah. Begitu indah. Mari ! Ku ajak engkau mendekat ke sana, berlari dari satu kota ke kota lainnya dan sesekali harus melompat dari pulau ke pulau. Lihat dan perhatikan apa sebenarnya isi dari permata itu.
    Suara-suara gaduh menyeruak sepertinya mereka mengatakan tolong. Semakin lama suara-suara itu makin jelas memang benar berbunyi tolong. Kemudian tampak dari jauh ratusan orang berlarian compang-camping, sesekali menengok ke belakang seakan-akan mereka berada di tengah arena balap banteng Spanyol sana. Aku penasaran apa yang ada di belakang mereka, aku kaget luar biasa. Ternyata lebih dahsyat malah dari belasan banteng bertanduk runcing tajam. Air bah setinggi pohon kelapa membuka mulutnya lebar-lebar, kenyang melahap semua yang ada di depannya berkecepatan kayak mobil formula.
    Aku berusaha mengulurkan tangan kananku kepada seorang gadis cilik yang menangis kebingungan. Hampir aku mencapainya. Tubuhku tiba-tiba tersedot masuk ke dalam lubang sempit. Latar berubah aku tiba di Kota Padang, bumi si anak durhaka Malin Kundang.
    Aku mengangkat kaki sebelah memulai langkah awal di kota ini. Srek… kakiku menyentuh tanah kembali. Tiba-tiba sesuatu berbeda terasa dari kuku kaki sampai di ujung rambut keringku. Semuanya berguncang maju-mundur, kiri-kanan, atas-bawah tak beraturan. Aku berlari sempoyongan tak berarah. Ku pandang semua di sekelilingku, aku memutar badan satu lingkaran penuh. Di sana aku melihat tembok-tembok kokoh yang selama ini menjadi tameng dari terik matahari, hujan, dan dari dinginnya malam, roboh bagai mainan bongkar pasang rata dengan tanah. Beberapa mobil ambulans berseliweran ke sana ke mari dengan sirinenya yang memekikkan telinga menambah tegang suasana. Orang-orang bermuka bingung dan panik, semuanya begitu. Mereka memenuhi jalan-jalan ibukota mengarah ke suatu tempat yang beberapa saat setelahnya aku ketahui tempat itu adalah kamp pengungsian.
    Dari Sumatera Barat kita lari-lari kecil ke Riau. Aku sempat tersesat sebelum akhirnya sampai di sana. Ada kabut tebal pekat menghalangi jalan, baunyapun menciderai hidung. Kebakaran hutan lagi kataku dalam hati.
    Dari sana kita ambil ancang-ancang dan melompat lebar ke Pulau Kalimantan. Aku tersungkur jatuh dengan wajah menempel ke tanah. Kakiku tersandung dahan pohon. Aku mengangkat wajah mencoba menengok, aku berada di tengah hutan.
    Beberapa saat kemudian terdengar bunyi rongrongan mesin gergaji. Pijakanku terasa bergoncang ketika sebatang pohon besar jatuh ke tanah. Tak hanya sekali tapi puluhan kali. Aku mendekat ke sumber suara, terdengar lagi bumi kracak-karacak dahan pohon. Sebatang pohon besar sepuluh kali lipat dari badanku mengarah jatuh tepat ke tempatku berdiri. Untunglah lubang hitam sempit itu muncul tepat waktu, aku tiba di Poso Sulawesi Tengah, malam hari kira-kira setelah isya.
    Berbeda dari tempat-tempat sebelumnya. Hanya kata sepi dan tegang yang muncul di otakku. Tak ada seorangpun yang terlihat bahkan bunyi jangkrik malam tak ada. Aku seperti ditarik sesuatu ke sebuah rumah yang lampunya menyala di atas teras. Aku menaiki tangga kayu basah rumah panggung itu. Sebelum mengetuk pintu, sempat aku menyelidik melalui celah-celah jendela depannya. Aku melihat bayang-bayang dua orang tegak berdiri, di tangannya ada parang. Aku pindah ke celah di sampingnya. Ku lihat seseorang yang bergerak tertatih-tatih, di bawah kakinya bercak-bercak cairan kental merah bertebaran kayak bintang di langit malam ini. Dia ditusuk.
    Keringat dinginku bercucuran dari balik pelipis, aku tak pernah melihat yang seperti ini. aku mundur perlahan-lahan menuruni tangga. Tapi di dua anak tangga terakhir aku terpeleset jatuh terbaring ke tanah menghadap angkasa. “Siapa itu ?” terdengar suara berat dan serak dari dalam rumah tadi, diikuti dera-dera langkah kaki sampai terdengar bunyi engsel pintu di putar. Cepat-cepat aku bangun memutar badan berlari secepat mungkin lompat masuk ke dalam hutan lari sekencang-kencangnya. Di belakang aku mendengar langkah panjang menghampiri. Semakin kencang aku, semakin jelas suara langkahnya. Aku tiba dipinggir sungai dan aku lompat ke dalamnya.
    “Aku tak bisa berenang, aku tak bisa berenang !” , begitu ku teriakkan di dalam air. Ajaibnya kaki dan tanganku tiba-tiba bergerak sendiri, melakukan gerakan teratur dan kompak kayak atlet renang olympiade yang mendekati garis finish, dia akan juara. Aku membiarkannya saja, membiarkanku dibawanya ke permukaan. Kepalaku muncul duluan merasakan indahnya menghirup udara. Sayup-sayup basah ku buka mata, sinar kesilauan muncul dari benda bundar di atas sana. Berganti siang. Setelah merasa cukup sadar, aku menjajakkan pandangan bertanya-tanya tempat yang bagaimana lagi ini. Desingan tombak besi runcing saling berpapasan memecah udara tepat di atasku. Belasan lagi mengikuti di belakangnya di tembakkan dari sisi kiri dan kanan sungai.
    Selanjutnya anak-anak panah dua kaki melesat berkelok-kelok membentuk parabola mendarat di perut seseorang sebagai landasan pacunya. Tak mau ketinggalan batu-batu sungai bundar sebesar kepalan tangan beterbangan bagai debu membuat orang-orang pada melindungi kepalanya. Aku tahu aku sekarang berada di Papua, lagi-lagi perang suku di batasi oleh sungai. Pastinya sudah banyak korban. Selalu saja terjadi.
    Latar berubah sekali lagi, kali ini aku berdiri di trotoar jalan pinggir pantai. Angin sepoi-sepoi mengeringkan rambutku yang basah tadi. Ada banyak turis di sini. mereka menghabiskan malam ini dengan makan-makan, berdansa, berkejar-kejaran, dan lain-lain di atas pasir putih pantai itu. beberapa di antara mereka tertawa besar dengan mulut ternganga lebar, namun suara mereka menjadi tak jelas di makan oleh alunan musik rock beraksen Inggris yang keluar dari speaker system di panggung sana.
    Tiba-tiba BOOOM… suaranya lebih keras beribu-ribu kali dari tulisannya saat dibaca. Bayangin sendiri-sendiri aja deh. Aku spontan memejamkan mata, kepalaku sakit, otot jantung bergerak tak beraturan, bunyi tiiit mendengung panjang di telingaku. Apa gendangnya tidak apa-apa ? bunyi luar biasa dahsyat. Perlahan ku buka kedua mataku yang tadinya ku pejamkan. Meja dan kursi beterbangan berubah posisi puluhan meter dari tempatnya semula. Potongan-potongan benda berlapis kulit manusia menyerupai tangan, kepala, kaki, dan lainnya memenuhi tempat tadi. Memang benar potongan tubuh manusia.
    Pasir yang tadinya putih berkilau berubah jadi merah oleh darah. Turis-turis itu panik ketakutan berlarian keluar gerbang yang di atasnya bertuliskan “Pantai Jimbaran”. Bom mengguncang Bali, Pulau Dewata. Dunia gempar mendengarnya.
    Lubang hitam sempit itu muncul lagi. Tapi bukan aku yang tersedot ke dalamnya, tapi yang tersedot adalah semua yang ada di sekeliling. Tempat baru lagi, aku tahu ini tempat terakhir untuk jalan-jalanku hari ini. aku berada di halaman sebuah gedung besar megah, atapnya berwarna hijau berbentuk menyurupai buku. Ku lihat diriku, mengenakan jas hitam, kemeja abu-abu, dan dasi putih bergaris-garis, lengkap dengan sepatu kulit impor asal Perancis.
    Aku menjajakkan kakiku langkah demi langkah di atas lantai bersih mengkilap. Aku tiba di depan sebuah pintu besar di atasnya bertuliskan “Nusantara 1”. Aku mengekor di belakang orang-orang yang berjalan masuk pintu itu. seorang pria yang berdiri di sana mengatakan selamat pagi kepadaku dengan senyumnya yang lebar.
    Aku menemukan kursiku, kursi bernomor 2109. Di mejanya terdapat papan kecil dari kayu jati berukir namaku. Aku duduk perlahan berusaha agar jasku tak terlipat sedikitpun. Beberapa saat setelahnya entah kapan dimulai, di depan orang-orang pada adu jotos. Pipi lawan tangan, kaki lawan siku. Aku mengira pertandingan tinju kelas berat. Berita heboh-berita heboh, anggota dewan adu jotos di meja ketua DPR. Suasana di luar gedung tak mau kalah dengan yang ada di dalam. Mahasiswa dan polisi anti huru hara saling terkam beterbangan kayak film kungfu. Aku pusing memilih diantaranya, yang mana lebih enak di tonton, anggota dewan versus anggota dewan atau mahasiswa versus polisi anti huru hara.
    Telepon genggamku berdering, aku raih dari saku jasku mematikannya tapi tak bisa, ku coba lagi tetap tak bisa. Aku membuka mata, aku kembali ke dunia nyata. Ternyata yang berdering adalah jam wekerku di atas meja belajar. Aku mencapainya dan memencet bagian atas. berhenti berdering.
    Aku keluar kamar mengarah ke WC untuk cuci muka. Belum sampai, terdengar bunyi paaak… dari teras rumah. Aku buka pintu depan, menemukan sebuah koran di sana. Aku memungutnya, masuk ke dalam rumah dudu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s